FAKTAHUKUM86.COM|TANAH DATAR– Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar Inhendri Abbas,S.Pd.MM Dt. Rajo Tanbasa menjadi pemateri Sekolah Demokrasi yang di adakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Pemikiran Politik Islam ( HMPSPPI ) tentang
“ Pentingnya Pendidikan, Menumbuhkan Karakter Dan Kesadaran Politik Generasi Muda ”dari UIN Muhammad Yunus Batusangkar yang diikuti oleh 54 orang siswa-siswi kelas 10,11 dan 12 . Bertempat di ruang pertemuan lantai tiga SMAN 2 Lintau Buo. Selasa ( 29/07/2025 ).
Hadir dalam kegiatan Kepala SMAN 2 Lintau Buo Muh.Hijaz,S.Pd,M.M.Pd, Wakil Kurikulum Delfita Yulianti ,S.Pd, Wakil Kesiswaan Nelfisa Fitri,M.Pd,Dosen Pemikiran Politik Islam Novi Budiman,S.I.P,M.Si, Ketua Umum Irwan Efendi ,Anggota HMPSPPI dan 54 orang peserta siswa peserta sosialisasi.
Pada kesempatan Inhendri Abbas menyampaikan tentang “pentingnya integritas nilai-nilai budaya Minangkabau ” Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah dalam pendidikan formal”. Pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi membentuk manusia yang berakhlak, beradat dan bermartabat .
Pentingnya pendidikan karakter berbasis nilai ABS-SBK dan menanamkan nilai budaya sejak dini agar pelajar tidak kehilangan jati diri .
Ungkapan “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (ABS-SBK) adalah filosofi hidup masyarakat Minangkabau yang menegaskan bahwa adat istiadat harus bersumber dan sejalan dengan ajaran Islam. Dalam konteks politik, filosofi ini memiliki fungsi penting sebagai landasan moral, etika, dan arah gerak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya bagi orang Minangkabau.
Berikut adalah fungsi ABS-SBK dalam berpolitik:
1. Menjadi Landasan Etika dan Moral Politik
ABS-SBK menuntun pelaku politik agar bersikap jujur, amanah, adil, dan bertanggung jawab.
Mencegah politik dari praktik-praktik yang bertentangan dengan syariat Islam seperti korupsi, fitnah, adu domba, dan manipulasi.
2. Menjaga Nilai-Nilai Keadilan dan Musyawarah
Dalam adat Minangkabau, keputusan diambil melalui musyawarah dan mufakat, bukan paksaan atau kekerasan.
Dalam politik, hal ini menjadi dasar untuk mendorong demokrasi partisipatif yang adil dan mengayomi semua pihak.
3. Menjadi Filter dalam Pengambilan Kebijakan
Setiap kebijakan yang dibuat oleh tokoh atau pemimpin Minangkabau harus sesuai dengan ajaran Islam.Adat dan syarak menjadi penyaring nilai dalam menentukan benar atau salahnya sebuah kebijakan.
4. Mendorong Kepemimpinan yang Berakhlak
Seorang pemimpin politik di Minangkabau idealnya adalah sosok yang berilmu, bersyara’, dan mengayomi, bukan hanya mengejar kekuasaan.Filosofi ini membentuk harapan masyarakat terhadap hadirnya pemimpin yang tauladan dan bijaksana.
5. Meneguhkan Identitas Politik Orang Minangkabau .Dalam konteks nasional, ABS-SBK menegaskan bahwa politik orang Minang tidak terlepas dari nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal.
Ini menjadikan politik bukan hanya soal kekuasaan, tapi juga pengabdian dan amanah sosial.Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam politik berfungsi sebagai kompas nilai yang membimbing perilaku politik masyarakat Minangkabau agar tetap berbasis syariat, beretika, dan berkeadilan. Nilai ini bukan hanya warisan budaya, tapi juga fondasi dalam membangun politik yang bermartabat dan berkeadaban. Penjelasan Inhendri Abbas.
Lanjut Inhendri Abbas menyampaikan beberapa tokoh politik terkenal dari Minangkabau (Sumatera Barat), baik dari masa lalu maupun masa kini:
Tokoh Politik Minangkabau – Nasional dan Berpengaruh
1. Mohammad Hatta,jabatan wakil Presiden Pertama Republik Indonesia. Asal Bukittinggi, Sumatera Barat .
Peran Proklamator Kemerdekaan Indonesia bersama Soekarno, tokoh penting dalam pergerakan nasional.
2. Sutan Sjahrir,jabatan Perdana Menteri Pertama Indonesia. Asal Padang Panjang, peran Pemimpin Partai Sosialis Indonesia, tokoh intelektual dan diplomat Indonesia.
3. Tan Malaka
Jabatan: Tokoh revolusioner dan pemikir kiri.Asal: Nagari Pandam Gadang, Suliki,Limapuluh Kota.Peran Pejuang kemerdekaan dan tokoh ideologis yang banyak dikaji hingga sekarang.
4. H. Azwar Anas
Jabatan: Gubernur Sumatera Barat (1977–1987), Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat asal Padang,peran Tokoh pemerintahan Era Orde Baru.
5. Jusuf Kalla (ayahnya dari Minang-Bugis)
Jabatan: Wakil Presiden RI (2004–2009, 2014–2019) Catatan: Kakek dari pihak ayah berdarah Minangkabau, walau lebih dikenal sebagai tokoh Bugis.
Tokoh Politik Minangkabau Kontemporer
6. Fadli Zon ,jabatan wakil Ketua DPR RI (2014–2019), Asal ayah Minangkabau (dari Maninjau, Agam).Peran: Politisi Partai Gerindra, dikenal vokal dalam berbagai isu nasional.
7. Fahri Hamzah
Jabatan: Wakil Ketua DPR RI (2014–2019)
Asal: Orang tuanya berdarah Minang (ayah dari Sumatera Barat). Peran tokoh nasionalis kritis dan pendiri Partai Gelora.
8. Gamawan Fauzi
Jabatan: Mendagri (2009–2014), Gubernur Sumbar , ssal Solok,Pperan Birokrat dan politisi senior, dikenal dengan pendekatan reformasi birokrasi.
Penutup di tengah arus globalisasi dan tantangan zaman, pendidikan formal tidak hanya bertugas mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, namun juga berakhlak dan berkarakter. Di sinilah pentingnya kita mengintegrasikan nilai-nilai budaya Minangkabau, khususnya falsafah luhur Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, ke dalam sistem pendidikan kita.
Falsafah ini bukan sekadar warisan budaya, tapi juga pedoman hidup yang menyelaraskan adat dengan ajaran agama. Dengan menjadikannya dasar dalam pembinaan karakter peserta didik, kita tidak hanya melahirkan generasi yang pintar, tapi juga beriman, berbudi pekerti, dan memiliki jati diri yang kuat.
Mari kita bersama-sama menjaga, merawat, dan menghidupkan nilai-nilai ABS-SBK ini dalam dunia pendidikan, demi masa depan anak-anak kita dan kelangsungan marwah Minangkabau.
Semoga apa yang kita upayakan hari ini menjadi amal jariyah dan membawa manfaat bagi bangsa dan ranah Minang yang kita cintai. Tutup Inhendri Abbas ( RF )












