PASAMAN BARAT | Minggu, 10 Mei 2026, nama Sabar Ruddin mulai menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Nagari Talu, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat. Sosok muda yang lahir dari keluarga sederhana itu kini dinilai sebagai representasi anak nagari yang tumbuh dari perjuangan hidup, dekat dengan rakyat kecil, serta memiliki semangat kuat untuk membawa perubahan bagi kampung halamannya.
Di berbagai sudut Nagari Talu, masyarakat mulai membicarakan perjalanan hidup Sabar Ruddin yang dianggap penuh perjuangan. Ia bukan berasal dari keluarga berada, melainkan tumbuh di lingkungan petani sederhana yang setiap harinya berjuang memenuhi kebutuhan hidup keluarga dari hasil kebun dan sawah.
Sejak kecil, Sabar Ruddin sudah merasakan kerasnya kehidupan. Di usia yang masih sangat muda, ia telah terbiasa membantu orang tua demi meringankan beban keluarga. Kehidupan yang penuh keterbatasan justru membentuk dirinya menjadi pribadi yang mandiri dan terbiasa menghadapi tantangan.
Perjalanan pendidikannya dimulai di SDN 13 Talamau. Pada masa itu, ia bahkan pernah bekerja sebagai penjemput jemuran milik warga untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Dari pekerjaan sederhana tersebut, ia belajar arti tanggung jawab, kejujuran, serta pentingnya menghargai setiap tetes keringat hasil kerja sendiri.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Sabar Ruddin melanjutkan pendidikan agama di Pondok Pesantren Pinagar. Kehidupan pesantren membentuk karakter disiplin, sederhana, dan memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam dirinya. Pendidikan kemudian dilanjutkan di MTs Istiqomah dan MAM Talu.
Semasa sekolah, ia dikenal aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan dan pelajar seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Hizbul Wathan, hingga Tapak Suci. Aktivitas organisasi tersebut perlahan membentuk jiwa kepemimpinan dan keberanian berbicara di depan publik.
Tidak hanya fokus belajar dan berorganisasi, Sabar Ruddin juga tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup. Ia pernah menjadi garin di Masjid Istiqomah Pasar Talu. Di sela-sela aktivitas sekolah, ia menjalankan tugas sosial dan keagamaan dengan penuh tanggung jawab.
Semangatnya untuk terus belajar membawa dirinya melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kesehatan dan MIPA Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Di lingkungan kampus, ia kembali aktif dalam organisasi mahasiswa dan dipercaya menjadi Ketua Umum Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di fakultasnya.
Bersama mahasiswa asal Pasaman Barat lainnya, ia juga turut membangun organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Pasaman Barat sebagai wadah persatuan mahasiswa daerah. Baginya, mahasiswa tidak cukup hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat untuk menyuarakan kepentingan rakyat.
Di tengah kesibukan kuliah dan organisasi, perjuangan hidupnya tidak berhenti. Demi membiayai pendidikan dan kebutuhan sehari-hari, ia pernah bekerja di perusahaan ekspedisi Indah Cargo dengan sistem kerja malam. Setelah bekerja hingga dini hari, ia tetap mengikuti perkuliahan dan aktivitas organisasi pada siang harinya. Ia juga pernah bekerja di vendor perusahaan rokok MMC.
Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut ke Fakultas Hukum Universitas Mohammad Natsir YARSI yang sebelumnya dikenal sebagai STIKes YARSI. Ketertarikannya pada dunia hukum lahir dari keinginannya memperjuangkan keadilan dan membela masyarakat kecil yang sering tidak memiliki akses terhadap perlindungan hukum.
Semangat perjuangan itu membawanya merantau seorang diri ke Pulau Jawa untuk melanjutkan pendidikan hukum di Universitas Islam Blitar. Di tanah rantau, ia tetap aktif dalam berbagai organisasi sosial dan gerakan mahasiswa, salah satunya KRPK.
Dalam berbagai kegiatan organisasi, Sabar Ruddin dikenal sebagai sosok yang vokal menyuarakan isu sosial, ketidakadilan, hingga pemberantasan korupsi. Ia kerap turun langsung menyampaikan aspirasi masyarakat dan mengkritik kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Kini, perjalanan panjang seorang anak kampung itu mulai mendapat perhatian luas dari masyarakat Nagari Talu. Berbagai kalangan mulai mendorong namanya untuk maju sebagai calon Wali Nagari Talu pada pemilihan mendatang. Dukungan datang dari pemuda, tokoh masyarakat, hingga warga perantauan yang menginginkan perubahan nyata bagi kampung halaman mereka.
Banyak masyarakat menilai Sabar Ruddin memahami persoalan rakyat karena dirinya lahir dan tumbuh langsung dari kehidupan masyarakat bawah. Pengalaman hidup yang keras dianggap menjadi modal penting untuk memahami kebutuhan masyarakat secara nyata, bukan sekadar teori.
Bagi Sabar Ruddin, membangun kampung bukan hanya tentang kekuasaan atau jabatan, melainkan bentuk pengabdian kepada tanah kelahiran yang telah membesarkan dirinya. Ia menilai Nagari Talu memiliki potensi besar yang harus dikembangkan agar menjadi nagari yang lebih maju, mandiri, adil, dan bermartabat.
Kini, anak kampung yang sejak muda terbiasa hidup susah, bekerja keras, merantau, dan memperjuangkan suara rakyat itu sedang dipanggil pulang oleh kampung halamannya sendiri. Dengan pengalaman, pendidikan, serta semangat perjuangan yang dimilikinya, Sabar Ruddin ingin mengabdikan diri untuk masa depan Nagari Talu yang lebih baik.
TIM












