JAKARTA|Gelombang harapan para pengemudi ojek online (ojol) kembali menguat di momentum Hari Buruh, seiring beredarnya pesan kuat terkait janji kesejahteraan yang ditujukan kepada mereka oleh Prabowo Subianto. Di tengah hiruk pikuk jalanan, para driver menaruh harapan besar agar negara benar-benar hadir dalam kehidupan mereka.
Dalam visual yang beredar luas, terlihat sosok Prabowo mengangkat tangan di tengah barisan pengemudi ojol yang mengenakan atribut hijau. Pesan yang disampaikan tidak main-main, yakni tambahan pendapatan hingga 92 persen serta jaminan perlindungan kesehatan melalui BPJS Kesehatan.
Namun di balik optimisme tersebut, tersimpan kegelisahan yang tak bisa lagi dibendung. Para pengemudi ojol mengaku hingga saat ini masih menghadapi berbagai persoalan klasik, terutama terkait potongan dari aplikator yang dinilai tidak wajar dan memberatkan.
Sejumlah driver menyampaikan bahwa potongan yang diterapkan oleh perusahaan aplikasi sering kali melampaui batas kewajaran. Bahkan dalam beberapa kasus, mereka hanya menerima sebagian kecil dari tarif yang dibayarkan pelanggan.
Kondisi ini membuat para ojol merasa semakin terdesak, terlebih dengan meningkatnya biaya hidup dan kebutuhan sehari-hari. Mereka berharap janji peningkatan pendapatan yang digaungkan benar-benar diwujudkan dalam kebijakan konkret.
“Kalau memang ada tambahan pendapatan sampai 92 persen, tentu itu sangat membantu. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana potongan aplikator bisa diatur agar tidak merugikan kami,” ungkap salah satu driver dengan nada penuh harap.
Tidak hanya soal pendapatan, jaminan kesehatan juga menjadi perhatian utama. Program BPJS Kesehatan untuk ojol dinilai sebagai langkah maju, namun implementasinya di lapangan masih dinantikan secara nyata.
Para driver berharap kebijakan tersebut tidak sekadar menjadi wacana atau janji politik semata. Mereka menginginkan kepastian, akses yang mudah, serta perlindungan yang benar-benar dirasakan oleh mereka dan keluarga.
Di sisi lain, momentum Hari Buruh dijadikan ajang untuk menyuarakan aspirasi secara lebih luas. Para ojol ingin dipandang sebagai bagian penting dari roda ekonomi nasional yang layak mendapatkan perlindungan hukum dan sosial.
Selama ini, posisi ojol sering berada di wilayah abu-abu, tidak sepenuhnya diakui sebagai pekerja formal, namun juga tidak mendapatkan perlindungan maksimal sebagai mitra. Hal ini menambah panjang daftar persoalan yang mereka hadapi.
Harapan besar kini tertuju pada kepemimpinan Prabowo agar mampu menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada pekerja sektor informal, termasuk ojol. Mereka menunggu langkah tegas dalam menertibkan sistem kemitraan dengan aplikator.
Para driver juga mendesak adanya regulasi yang jelas terkait batas maksimal potongan dari aplikator. Tanpa aturan yang tegas, mereka khawatir praktik yang merugikan akan terus berulang.
Lebih jauh, mereka ingin dilibatkan dalam proses perumusan kebijakan yang menyangkut kehidupan mereka. Dengan demikian, kebijakan yang lahir benar-benar mencerminkan kebutuhan di lapangan.
Gelombang aspirasi ini bukan sekadar keluhan, melainkan bentuk perjuangan untuk mendapatkan keadilan dan kesejahteraan yang layak. Ojol ingin dihargai atas kontribusi mereka dalam mendukung mobilitas masyarakat.
Kini, semua mata tertuju pada pemerintah. Apakah janji akan berubah menjadi aksi nyata, atau justru kembali menjadi angin lalu yang dilupakan seiring waktu.
Di tengah deru mesin dan padatnya lalu lintas, para ojol terus bekerja sambil membawa harapan besar—bahwa suatu hari nanti, kesejahteraan yang dijanjikan benar-benar akan mereka rasakan.
TIM












