BERITA  

Irjen Pol Agus Suryonugroho Ajak Masyarakat Jadikan Ramadan 1447 H sebagai Titik Balik Budaya Tertib Berlalu Lintas

JAKARTA | Datangnya Ramadan selalu menghadirkan getar yang berbeda di hati setiap insan. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan, ada harapan yang diam-diam tumbuh, dan ada tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. Dalam suasana penuh makna itu, Agus Suryonugroho menyampaikan salam hangat menyambut bulan suci 1447 Hijriah kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Di tengah kesibukannya sebagai Kakorlantas Polri, ia hadir dengan pesan yang sederhana namun dalam. Bersama Ny. Deny Agus Suryo dan keluarga besar Korps Lalu Lintas Polri, ia mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, seraya mendoakan agar Ramadan tahun ini membawa ketenangan dan keberkahan bagi semua.

Sosok perwira tinggi yang dikenal tegas di lapangan itu memilih menyampaikan pesan dengan bahasa yang lembut. Tidak berlebihan, tidak pula formal berjarak. Hanya satu kalimat yang terasa hangat: Marhaban Ya Ramadan. Sebuah sapaan yang mengandung doa dan harapan agar setiap hati dibersihkan, setiap langkah dijaga.

Ramadan, baginya, bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Lebih dari itu, bulan suci adalah ruang pembelajaran untuk mengendalikan diri, meredam amarah, dan menumbuhkan empati. Nilai-nilai inilah yang ia yakini sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berada di balik kemudi.

Ia memahami betul bahwa selama Ramadan, ritme aktivitas masyarakat justru meningkat. Jalanan menjadi lebih padat, terutama menjelang waktu berbuka puasa. Semua orang ingin segera sampai ke rumah, berkumpul dengan keluarga, menikmati kebersamaan setelah seharian berpuasa.

Menjelang waktu magrib, suasana lalu lintas kerap berubah menjadi ujian kesabaran. Klakson bersahut-sahutan, kendaraan saling mendahului, dan emosi mudah tersulut. Dalam kondisi seperti itu, Ramadan sejatinya menjadi cermin: sejauh mana seseorang mampu menahan diri.

“Jika kita mampu menahan lapar dan haus, tentu kita juga mampu menahan emosi di jalan,” menjadi pesan yang ia sampaikan dengan nada ringan namun sarat makna. Kalimat itu bukan sekadar imbauan, melainkan refleksi dari nilai puasa yang seharusnya meresap hingga ke perilaku sehari-hari.

Bagi perwira tinggi yang memimpin urusan lalu lintas nasional tersebut, keselamatan tidak hanya bergantung pada aturan dan pengawasan. Keselamatan lahir dari kesadaran pribadi. Dari hati yang tenang, dari keputusan untuk tidak tergesa-gesa, dari pilihan untuk mendahulukan keselamatan dibanding ego sesaat.

Di balik jabatan dan tanggung jawab besar yang ia emban, terselip harapan sederhana: agar setiap perjalanan masyarakat selama Ramadan berlangsung aman. Tidak ada yang lebih penting selain memastikan setiap orang tiba di tujuan dengan selamat dan dapat berkumpul dengan orang-orang tercinta.

Ny. Deny Agus Suryo turut menyampaikan harapan agar Ramadan menjadi momentum mempererat kebersamaan. Ia mengajak masyarakat untuk memperbanyak kebaikan kecil—senyum di jalan, memberi kesempatan kendaraan lain melintas, atau sekadar bersabar dalam antrean—karena hal-hal sederhana itulah yang membentuk suasana damai.

Ia percaya bahwa Ramadan bukan hanya tentang hubungan vertikal kepada Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal antarsesama manusia. Empati yang tumbuh dari rasa lapar seharusnya membuat seseorang lebih peka terhadap kondisi orang lain, termasuk pengguna jalan yang mungkin sedang terburu-buru atau kelelahan.

Ramadan juga bulan refleksi. Bulan untuk menilai kembali sikap dan kebiasaan yang mungkin selama ini diabaikan. Dalam konteks lalu lintas, refleksi itu bisa berarti memperbaiki disiplin, menaati rambu, dan menghormati hak pengguna jalan lainnya.

Karena itu, pesan yang disampaikan tidak terjebak pada slogan atau target semata. Ia tidak berbicara panjang tentang angka atau program. Yang ia tekankan adalah kesadaran kolektif bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas aparat.

Ia tidak menempatkan masyarakat sebagai objek imbauan, melainkan sebagai mitra dalam membangun budaya tertib berlalu lintas. Ramadan, menurutnya, adalah waktu terbaik untuk memulai perubahan, sekecil apa pun itu.

Di penghujung pesannya, doa kembali ia panjatkan. Semoga Ramadan 1447 H membawa keberkahan untuk seluruh rakyat Indonesia. Semoga setiap langkah, setiap perjalanan, dan setiap niat baik mendapatkan perlindungan dan kemudahan.

Ramadan 1447 H kali ini diharapkan menjadi ruang pembenahan diri, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga sosial. Dengan hati yang lebih jernih dan emosi yang lebih terkontrol, jalan raya pun dapat menjadi ruang yang lebih ramah. Dari Jakarta, salam hangat itu menyebar ke seluruh penjuru negeri, mengajak semua untuk menjemput Ramadan dengan kedamaian.

Andri HD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *