BERITA  

Merayakan 35 Tahun Lampung Barat: Antara Refleksi Filosofis “Beguai Jejama” dan Arsitektur Kesejahteraan Berkelanjutan

LAMPUNG BARAT – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-35 bukan sekadar ritual seremonial bagi Kabupaten Lampung Barat. Pada Kamis (24/9), puncak perayaan di Lapangan Indrapati Cakranegara menjadi manifestasi dari dialektika antara penghormatan terhadap sejarah pembentukan daerah pada 16 Agustus 1991 dan komitmen strategis dalam merancang masa depan melalui kebijakan kesejahteraan aparatur, diplomasi antarwilayah, serta revitalisasi identitas budaya.

Bupati Lampung Barat H. Parosil Mabsus memimpin upacara yang dihadiri jajaran Forkopimda, Ketua DPRD Edi Novial, Dandim 0422/LB Letkol Inf Rizky Kurniawan, Kapolres AKBP Samsu Wirman, serta tamu kehormatan dari Kabupaten OKU Selatan dan Pesisir Barat. Kehadiran tokoh adat Sumbai Lima, Sekda, Ketua TP PKK, dan Duta Baca Indonesia Gol A Gong menegaskan bahwa peringatan ini dibangun di atas fondasi kolaborasi multipihak.

Filosofi Kebersamaan sebagai Kompas Pembangunan Tema “Setawitan, Seuyunan, Sehangguman, Maju Jejama” yang diusung tahun ini bukan sekadar slogan, melainkan kerangka filosofis operasional. Bupati Parosil menguraikan bahwa Setawitan adalah epistemologi kebersamaan dalam memulai setiap langkah; Seuyunan merepresentasikan harmonisasi gerak dalam satu irama pembangunan; Sehangguman adalah etika saling menguatkan dalam menghadapi tantangan; sedangkan Maju Jejama merupakan teleologi atau tujuan akhir dari seluruh proses tersebut.

Kerangka filosofis ini diterjemahkan secara konkret dalam peta jalan pembangunan sumber daya manusia periode 2025–2030. Program beasiswa S1 PGSD dan Kewirausahaan (masing masing 30 orang), Poltrada Bali (7 orang), dokter umum (11 orang), dan dokter gigi (3 orang) dirancang sebagai investasi jangka panjang. Ditambah bantuan seragam dan tas gratis bagi 5.957 siswa SD/MI dan 4.828 siswa SMP/MTs, kebijakan ini menegaskan paradigma bahwa modal manusia adalah fondasi utama keberlanjutan daerah.

Arsitektur Kesejahteraan dan Diplomasi Antarwilayah Dalam dimensi tata kelola pemerintahan, Bupati mengumumkan kenaikan insentif PPPK paruh waktu sebagai afirmasi atas dedikasi pelayanan publik. Kualifikasi SMA naik dari Rp500.000 menjadi Rp750.000, D-III dari Rp600.000 menjadi Rp900.000, dan S-1 dari Rp700.000 menjadi Rp1.000.000 per bulan. Kebijakan ini mencerminkan pengakuan negara terhadap peran vital aparatur non-PNS dalam menopang birokrasi daerah.

Di sisi eksternal, lima perjanjian kerja sama yang ditandatangani menandai pergeseran strategi dari isolasi menuju konektivitas. Kerja sama pengembangan potensi daerah dengan Kabupaten Pesisir Barat dan OKU Selatan (Sumsel) membuka koridor ekonomi lintas batas. Sementara kemitraan dengan PT Bank Syariah Indonesia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dan PT Eljohn untuk Kawasan Wisata Lumbok Seminung Resort menunjukkan pendekatan pragmatis dalam mengakselerasi pariwisata dan aksesibilitas keuangan.

“Kerja sama ini adalah upaya mentransformasi Lampung Barat dari entitas administratif menjadi simpul konektivitas regional yang produktif,” tegas Bupati Parosil.

Apresiasi Prestasi dan Ekspresi Budaya sebagai Identitas Kolektif Penyerahan 55 penghargaan kepada tokoh adat Sumbai Lima, pemenang MTQ, Paskibraka Provinsi 2026, juara kompetisi akademik seni, serta Kecamatan Gedung Surian (TP PKK Paling Aktif & Layak Anak Peringkat 1) bukan sekadar pemberian simbolis. Ini adalah mekanisme penguatan modal sosial dan pengakuan terhadap ekosistem prestasi yang telah terbangun. Apresiasi kepada pelaku UMKM kopi lokal juga menandakan integrasi antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi kreatif.

Karnaval budaya yang dimulai pukul 10.00 WIB dari Lamban Pancasila menuju Lapangan Indrapati Cakranegara menjadi ruang ekspresi identitas kolektif. Partisipasi anak-anak TK dengan kostum tradisional, sanggar seni Setiwang, serta paguyuban budaya Jawa, Batak, Siliwangi, dan Padang merefleksikan karakter Lampung Barat sebagai masyarakat majemuk yang tetap berakar pada kearifan lokal Beguai Jejama.

Prosesi potong tumpeng oleh Bupati, Wakil Bupati, Forkopimda, dan tokoh adat menutup rangkaian puncak HUT sebagai ritus syukur atas perjalanan 35 tahun. Sebelumnya, sebulan penuh kegiatan pendukung—mulai gotong royong serentak, Festival Kreasi, Pasar Malam Expo UMKM, turnamen olahraga, pengajian, hingga Rapat Paripurna DPRD telah menciptakan atmosfer partisipatif yang melampaui batas-batas seremonial belaka.

Peringatan HUT ke-35 Lampung Barat kali ini, dengan demikian, bukan hanya tentang merayakan masa lalu, tetapi tentang menegaskan arah masa depan: sebuah daerah yang bergerak dengan filosofi kebersamaan, didukung arsitektur kebijakan yang inklusif, dan dihidupi oleh identitas budaya yang dinamis. (Dd-LB)